From the Author Kartunamanya kok beda ??
Jul 13

Tahun lalu, Harits, anak saya yang pertama, baru masuk sekolah dasar. Saya sekolahkan dia ke salah satu sekolah dasar negeri yang terletak di pusat Kota Bandung. Meskipun jaraknya cukup jauh dari rumah, perlu waktu sekitar 30 s.d 45 menit, namun menurut saya karena ini adalah sekolah dasar jadi saya pikir ada baiknya dia merasakan sekolah yang mempunyai reputasi yang cukup baik.

Minggu pertama di sekolah, anak saya merasakan proses adaptasi terhadap lingkungan barunya, namun untuk ukuran anak seumur dia tidak perlu waktu yang lama untuk mengenal lingkungan di sekolah maupun bergaul dengan teman-temannya. Dalam hitungan waktu satu atau dua hari dia sudah mempunyai banyak kenalan di kelasnya.

Minggu kedua, pelajaran sekolah dasar kelas 1 sudah dimulai, buku-buku pelajaran telah “dibagikan” oleh pihak sekolah kepada murid-muridnya (istilah dibagikan bukan berarti gratis, tetapi kita beli melalui sekolah ;) ). Alangkah kagetnya melihat materi kelas 1 SD jaman sekarang, sangat jauh berbeda semasa saya kelas 1 SD jaman dulu. Tidak kita temui lagi buku “Ini Budi” untuk belajar membaca karena kelas 1 SD sekarang diwajibkan harus sudah bisa membaca. Namun di sisi lain, buku-buku pelajaran SD sekarang sebagian sudah menyajikan dengan “full color” sehingga memudahkan para siswa untuk menyerap materi. Kemudian sekarang anak kelas 1 SD sudah diwajibkan untuk belajar menggunakan komputer dimulai dengan membuat dan memodifikasi gambar menggunakan program Paint nya dari MS Windows. Tapi lucunya kadang-kadang ulangan komputer diberikan secara tertulis, dengan soal yang kira kira seperti ini : Bagaimana caranya membuat lingkaran ??, bagaimana caranya membuat segitiga berwarna ?? . Pertanyaan saya sebagai orang tua adalah : Apakah si murid dididik untuk terampil menggunakan komputer ? ataukah dididik untuk menghapal semua urutan proses dalam menggunakan program aplikasi ?? :P

Minggu ketiga, saya tersentak kaget ketika materi matematika anak saya belajar tentang “loncat bilangan” atau di universitas sering dikenal dengan “Barisan Bilangan”. Sebagai contoh, dalam buku tersebut tertulis soal sebagai berikut ,

Isilah titik titik di bawah ini :

2, 4, 6, …, …, …
1, 4, 7, …, …, …

atau soal lain seperti ini :

10, 8, 6, …, …
10, 7, 4, …

Saya sangat terheran heran, mengapa materi setinggi ini diajarkan di kelas 1 SD, meskipun menggunakan bilangan-bilangan lebih kecil dari 20, tapi saya tidak melihat “esensi” anak-anak SD diajarkan tentang materi barisan, maknanya apa ??. Entah di kelas 2 nanti kejutan apalagi yang akan saya dapatkan :( .

Halo bapak-bapak ibu-ibu penyusun kurikulum tolonglah jelaskan!!! . Setiap beberapa tahun sekali kurikulum pendidikan kita selalu berubah (hal ini tentu berdampak pada pemborosan dana APBN) , tapi nampaknya bukan konvergen ke arah yang lebih baik, tetapi malah sebaliknya :( . Ada apakah dengan sistem pendidikan di negeri tercinta ini ??

68 Responses to “Matematika kelas 1 SD sudah belajar tentang barisan ??”

  1. risdi Says:

    kemaren ketemu anak teman kelas 2 sd di sendai. Istri saya kaget melihat anak tersebut belum bisa lancar membaca. tapi untuk keterampilan mengasah otak jangan ditanya…dia sudah bisa bikin mainan sendiri hanya dari kertas bekas dan solatip yang dibelikan orang tuanya. bisa bercerita tentang masa liburannya dan bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. bisa menunjukkan mana yang benar dan yang mana yang salah misal cara membuang sampah. dll.
    untuk soal matematika kelas satu dan dua sd materinya masih tentang berpikir kreatif soalnya…..adalah …..+……=9. setiap anak bisa mengisi bilangan apapun yang jumlahnya 9. anak dilatih untuk berpikir kreatif. tidak menghapal…….
    anak ku mau aku sekolahkan diluar negri aza ah……

  2. ibonk Says:

    aduh kang irwan kaya yg baru tau aja kalo kurikulum indonesia emank aneh. lebih aneh lagi kok pada ga nyadar ya (penyusunnya)?
    yang ada bukan pendidikan tapi pencekokan kayanya. Pengujiannya pun mencari jalan pintas dengan pilihan berganda. Saya belajar baca kelas 1 SD. Kalo anak sekarang udah harus bisa baca ketika masuk SD, trus belajar bacanya di TK? atau udah kecil2 pada ngeLes gitu.Kasian bgt. Masa kanak2 kan masa bermain.

  3. yoen Says:

    klo kaka saya kluar kota atau kluar negeri, saya pasti ketitipan ponakan dengan sejubel aktivitasnya. dan saya lebih seneng nganter dia ikut pasanggiri jaipongan kesana kemari walopun cape mulai dari dandanin sampe nunggu hasil pengumuman pemenang daripada bantuin dia ngerjain PR matematika.. fiuuhh, itu mah bikin rambut saya rontok.. bukan ga bisa ngejelasin dan ngajarin.. tapi ko ya susah banget itu soal untuk ukuran anak SD.

    sok atuh yang bikin bukunya diajarin dulu sama kang irwan ;))

  4. Anita Says:

    Inilah yang aku takutkan jika aku dan keluarga balik ke indonesia. Sedih rasanya jika melihat anak-anak dipaksa untuk belajar yang bukan sesuai dengan umur mereka.

    Masa sekolah seharusnya masa indah bagi tiap anak, seperti yang pernah kita lalui dahulu. Tiap anak berhak mendapatkan yang terbaik untuk masa kecilnya, jangan paksa anakĀ² untuk mulai menghafal dan mengerjakan yang tidak sesuai dengan usianya. Ibu bapak pembuat kurikulum, tolong buat anak Indonesia jadi anak yang berbahagia dalam menempuh pendidikan mereka.

    Seperti yang aku bilang di ym, aku berat membiarkan anakku kembali ke Indonesia. Semoga Tuhan membuka jalan untuk kami.

  5. Kusnahadi Says:

    kalo su’udzhan nya mah pa irwan, kayanya penggantian kurikulum yang sangat sering itu merupakan proyek orang untuk menghasilkan income, tapi sih kalo menurut saya gpp juga asal kurikulum yang dibentuk memang bertujuan untuk memperbaiki kurikulum yang lama agar jadi lebih baik yang dijelaskan maksud dan tujuannya, dan tidak menjadikan siswa SD tersebut menjadi objek penderita sehingga masa dia yang seharusnya dijalani dengan selayaknya anak2 menjadi terpaksa karena sistem kurikulum yang memberatkan.

    semoga anak saya nanti mendapatkan pendidikan yang sesuai tetapi tidak mengkebiri waktunya sebagai anak-anak… amiin…

  6. admin Says:

    @risdi : ya betul kang Risdi sejauh ini saya lihat metoda di luar negeri masih jauh lebih bagus, karena untuk seukuran umur tk dan sd masih belajar bagaimana bersoasilisasi mengenal teman dan lingkungannya, selebihnya mereka main main saja.

    @ibonk : betul kang Ibonk dan satu hal lagi yang terparah adalah, anak2 SD kelas 1 sudah ada Les dari guru kelasnya :P , jelas ini malah “pembodohan” karena anak2 SD nantinya pintar karena Les bukan karena Sekolah.

    @Yoen : saya belum termasuk orang yang bisa merubah sistem pendidikan di Indonesia, maklumlah baru sebatas prajurit saja :D
    @Anita : lebih baik pertahankan anakmu sekolah dasar di Jerman, saya liat metoda mereka jauh lebih bagus dibandingkan di sini, meskipun dari segi materi anak2 SD kita lebih kaya, tapi semuanya masih dalam bentuk hapalan dan bukan “konsep” seperti yang diajarkan anak2 SD di Jerman.

    @Kusnahadi : kang Kusna yang namanya kurikulum di Indonesia itu memang bagus semuanya, tapi entah mengapa implementasinya di lapangan hampir tidak keliatan, jadi menurut saya kurikulum lama, jaman kita atau orang tua kita waktu sekolah dulu, masih lebih bagus dibandingkan dengan yang sekarang :D .

  7. apri tea Says:

    Cenah mah engke ge aya soal cerita. Ngan bati ukur gogodeg, ck ck ck…., karunya barudak jaman ayeuna! Untung abdi tos lulus SD :P.

  8. Anjasmasra Says:

    Emang pusing, disatu sisi anak-anak kita harus mengeyam pendidikan dasar wajib 9 tahun tetapi kurikulum yang di dapatkan koq malah bukan kurikulum pendidikan dasar tetapi kurikulum yang membuat anak-anak lebih dini menjadi anak yang stress…!! sebab murid kelas 1 SD dah hilang masa bahagia bermain diganti dengan masa peras otak yang ndak pada tingkatannya diberikan materi matematika seusianya. Ada apa sebenarnya dengan negeriku ini….?!

  9. Dharmawan Says:

    @ Kang Apri : soal cerita sudah diberikan, tapi kadang2 ada beberapa kalimat yang susah dipahami oleh anak-anak SD :(
    @Kang Anjasmasra : betul Kang saya setuju, anak saya punya ketakutan setengah mati kalau dia tidak membuat PR, di satu pihak ada bagusnya mendidik anak belajar bertanggung jawab, di pihak lain ada sesuatu “keterpaksaan” yang dapat menyebabkan “ketakutan” bagi si anak tersebut, saya sendiri sedikit bingung menghadapi masalah ini, tapi sejauh ini saya tetap mengedepankan sisi positif dari apa-apa yang akan kita kerjakan ke anak saya.

  10. fasahuwa Says:

    ya begitulah pendidikan di indonesia sekarang ini…………… sebetulnya semua pada sadar ada yang kurang bener dg kurikulum kita, tapi………..ya itu tadi. education is big bussines

  11. Kevin Says:

    Sama seperti kang Dharmawan, putriku yang pertama masuk SD kelas 1 tahun ini. Sebelumnya saya nggak begitu ngikutin kurikulum & mungkin kalau boleh dibilang cuek bebek lah…semua mua dihandle oleh istri saya (kalau ini jangan ditiru ya :-) ). Minggu 1-2 report dari istri mengenai putri saya fine-fine aja. Bahasa Indonesia selalu mendapat nilai diatas 8 karena kebetulan dari TK dia sudah dapat baca tulis sehingga untuk soal dikte tidak ada masalah. Nah mulai masuk minggu ke-3 menurut istriku nilai matematika putriku jeblok banget yang terparah mendapat nilai 2. Iseng-iseng aku lihat materi matematika anak-ku…walah isinya benar-benar menakjubkan. Soal-soal yang mungkin saya dapat dulu waktu kelas 4 sudah diajarkan di kelas 1. Seperti contohnya soal di IPS, ada soal seperti ini: orang tua laki-laki dari ayah adalah?, adik perempuan dari ibu adalah? sebutkan susunan keluarga mulai kakek! Kemudian soal matematika seperti yang sudah kang Dharma tulis mengenai deret bilangan…wah apa iya logika anakku sudah bisa mencerna soal soal seperti itu ??? Akhirnya sekarang ada kebiasaan baru buat aku. Yang biasanya aku pulang diatas jam 8 malem sekarang sebisa mungkin pulang jam 6 biar bisa ngasih les buat putriku. Meskipun kadang-kadang kasihan ngliat dia ngerjain soal sambil nguap-nguap.

  12. Dharmawan Says:

    @fasuhawa : saya setuju bahwa pendidikan sekarang menjurus ke bisnis, kasus paling sederhana adalah pengadaan buku2 di sekolah2 :)
    @Kevin : waduh mas Kevin ini ternyata pengalamannya bener2 mirip dengan saya, soal2 IPS memang kadang ada yang menggelikan, masalah ngajar anak saya sampai menguap pun sama, kadang kasihan juga seolah olah belajar itu merupakan sesuatu hal yang menyiksa dan bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan :( , kadang kita sekarang harus berkreativitas sendiri agar si anak bisa belajar sambil bermain sehingga dia bisa “enjoy” melakukannya, tapi ini pun tidak mudah ternyata, perlu banyak variasi untuk melakukannya agar si anak tidak bosan. Ok mas Kevin semoga ke depan sudah tidak “kaget” lagi dengan kurikulum SD sekarang :) .

  13. rury Says:

    klo umur belum pas untuk masuk sd mending jangan dulu deh,kacian bocahnya nanti.emang kelas 1,2,3 dia bisa ikutin tuh pelajaran tp nanti lo dah kls 4,5,6 dan seterusnya otak tuh anak bisa stresssss di tambah lagi pelajarannya dah kaya gitu…..!!!!!

  14. dyah Says:

    mas dharmawan, saya kebetulan lewat, dan ingin berbagi keprihatinan juga… Saya dulu sekolah di Taman Muda Tamansiswa Ibu Pawiyatan, di Jogja. Saat itu rasanya senang kalau ke sekolah, karena menurut Ki Hajar Dewantara, kelas 1-3 itu masih masa bermain (dulu juga disebut Taman Anak). Saya masih ingat kami ada acara makan bersama di pendopo, masing-masing bawa bekal, termasuk bawa piring, sendok, garpu, gelas, sekolah menyiapkan meja meja kecil, dan kami begitu sibuk menyiapkan acara makan bersama itu ! Kami juga banyak belajar tembang, dolanan anak, bahkan sempat juga tampil di tvri jogja, dan tampil di acara-acara besarnya tamansiswa. Kalau pas anak-anak mau pentas, ayah-ibunya ikut heboh juga, tapi kayanya hebohnya happy, gak pusing karena harus mikir rumus yang bikin puyeng…
    Asiknya juga ada musim bermain, kalau pas musim lompat tali, semua lompat tali,sibuk nyari karet-karet gelang untuk dirangkai, ada juga musim engklek, wah, sibuk deh ngumpulin pecahan genteng, trus dialusin tuh pinggirnya sampai muluuus….
    Apakah yang saya alami dulu sudah dianggap primitif mungkin ya? Jaman sekarang anak-anak harus segera dijejali ilmu pengetahuan supaya bisa mengejar ketertinggalan bangsa, begitu? Banyak teman-teman saya yang cerita, anak-anak mereka badannya panas kalau besok pagi ada ulangan… Kasihan, anak-anak Indonesia dari kecil harus belajar stress.
    Kami alumni taman muda yang menjadi pemerhati pendidikan membuat blog di alumnitamanmuda@wordpress.com. Kalau teman-teman ingin berbagi, kami akan senang hati menerima komentar, ide, atau apapun… siapa tahu nanti bisa jadi gerakan revolusi pendidikan…. ah, jangan, mungkin taktik gerilya jendral sudirman lebih cocok… Salam !!!

  15. dyah Says:

    ralat, alumnitamanmuda.wordpress.com… :D

  16. Dharmawan Says:

    @rury : saya sangat setuju bahwa murid sekolah harus disekolahkan sesuai dengan usianya, teman2 anak saya banyak yang umurnya belum cukup namun sudah dipaksakan oleh orangtuanya, alhasil prestasinya malah “tertinggal” dibandingkan teman2nya.

    @dyah : mbak Dyah terimakasih telah singgah, jaman saya dulu masih mengalami apa yang disebut main mobil2an dari kulit jeruk bali, lalu bikin mobil2an dan pistol2an dari bambu bekas sapu, namun sekarang sudah tidak ada lagi, anak2 sekarang lebih suka main game komputer atau Play Station :) , konon katanya menurut para ahli mainan tersebut bisa menstimulate kemampuan otak anak :D .

    Masalah stress anak, hal itu terjadi dengan anak saya, dia akan merasa “stress” kalau belum mengumpulkan PR, di lain pihak kalau menjelang ulangan, malah orangtuanya yang stress karena harus menjejali pelajaran2 sekolah yang begitu banyak materinya :( .

    Saya berharap organisasi bu Dyah bisa melakukan kontribusi yang positif untuk perkembangan pendidikan khususnya untuk anak2 SD di indonesia.

  17. Nelsia Says:

    Putri saya juga tahun ini baru masuk SD Negeri (saya salah satu alumni dari sekolah tsb). Memang saya lihat pelajaran yang saya terima dulu dengan pelajaran yang diterima oleh putri saya amat sangat jauh berbeda. Dengan proses pembelajaran yang saya terima dulu membuat saya mencintai matematika(& ilmu-ilmu eksak/sains), dan itu yang sekarang saya terapkan ke putri saya. Dengan harapan putri sayapun dapat mencintai ilmu pengetahuan.
    Saya berusaha menyelaraskan dengan kurikulum sekolah, usia anak, dan pengalaman saya bersekolah dulu. Dengan cara belajar sambil bermain.
    Butuh kerja keras memang, setelah lelah dikantor, masih harus “kasih les privat” untuk anak (saya juga adalah seorang karyawati). Tapi harus tetap saya lakukan supaya anak saya tidak stress.
    Putri saya dari TK sudah diajar bahasa Inggris. Agar supaya dia tidak lupa akan pelajarannya dulu, saya dan suami selalu ajak bicara dalam bahasa Inggris. Misalkan menanyakan nama2 hari, warna baju apa yang dia pakai, berapa kue yang dia makan, buah2an dsb.
    Puji TUHAN! sampai sekarang dia happy2 saja pergi sekolah dan selalu dapat nilai 10!
    Dan diatas itu semua , tetap selalu doakan anak - anak kita (anak - anak Indonesia) supaya pintar2 & tidak kalah dengan bangsa2 lain di dunia.

  18. shasa Says:

    Saya punya pengalaman yang membuat pusing dan makin menguatkan bahwa kurikulum di Indonesia itu tidak saling mendukung. Sebagai contoh kurikulum di TK dan SD. Putri saya bersekolah di salah satu TK yang kebetulan memegang teguh tidak mengajari murid2nya dengan cara mengejar target agar anak dapat berhitung, membaca dan menulis (sesuai anjuran Diknas). Sekolah tersebut tidak pula memberi PR baca tulis hitung bagi muridnya. Kalaupun ada pelajaran menulis, berhitung dan membaca, kegiatan itu dilakukan dengan cara fun (belajar sambil bermain). Akan tetapi orang tua murid banyak yang memprotes metode sekolah ini karena anak-anaknya tidak dapat membaca, menulis dan berhitung dengan baik setelah lulus TK (untuk persiapan SD).
    Singkat cerita ketika masuk SD, putri saya memang harus mampu misalnya menghitung susun bilangan hingga 100, belajar bagaimana mengurutkan bilangan/membilang loncat, belajar silsilah keluarga, belajar hak anak (yang tumpang tindih) dsb. Kadang2 materinya masih bersifat abstrak dan hal tersebut memerlukan penjelasan yang sangat konkrit dan mudah dicerna. Untung kami sebagai orang tua masih mempunyai waktu untuk mendampingi anak kami belajar (termasuk mengajari menulis agar anak dapat mencatat pelajaran di kelas. Bayangkan, anak kelas 1 SD harus mencatat pelajaran yang dulu dapat saya lakukan di kelas 3 SD). Menurut saya, orang tua harus punya segudang cara untuk membuat acara belajar di rumah lebih menyenangkan, agar anak tidak stress setelah belajar di sekolah. Pengalaman di atas hanyalah sedikit gambaran mengenai betapa tidak harmonisnya kurikulum kita.

  19. elsye Says:

    Wah terima kasih atas tulisannya Mas Darmawan !, Kebetulan saya memang sedang mencari informasi tentang kurikulim kelas satu di Indonesia untuk mempersiapkan anak saya pada waktu kami pulang nanti. Terus terang saya agak khawatir soal sistem pendidikan di indonesia.

    Seperti yang anda tulis diblog ini, anak-anak kelas satu sudah diajarkan deret bilangan…membuat saya terkejut-kejut dan harus bisa membaca sebelum masuk SD !! Well, menurut saya ini malah akan membuat anak stress dan tidak berkembang.

    Sangat terbalik dengan pengalaman anak kami yang bersekolah di sebuah SD negeri di negara sakura ini. Belajar sambil bermain dan menyenangkan yang diajarkan disekolah. Anak-anak kelas satu baru diajarkan membaca dan menulis secara bertahap. Berhitung juga hanya pertambahan dan pengurangan yang nota bene angkanya pun kurang dari 10.

    Disini anak-anak diajarkan tentang art, lingkungan, matematika, membaca dan olahraga. Ini pun diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Membuat prakarya dari karton bekas makanan seperti yang dicerikan oleh pak risdi diatas adalah di mulai dari Taman Kanak-kanak. Selain itu mereka diajarkan cara beretika yang b enar, bagaimana cara meminta maaf, membuang sampah yang baik dan diencourage untuk mengeluarkan pendapatnya dikelas.

    Banyak yang saya pelajari dari negeri sakura ini, sungguh saya terkejut membaca anak TK di indonesia sudah belajar bahasa inggris, anak kelas 1 SD sudah belajar komputer dengan ulangan yang sama sekali tidak menggunakan komputer….welll…..menyedihkan !! mau dibawa kemana anak-anak negeri ini……

    btw, thanks for sharing, ini menguatkan saya untuk menerapkan metode home schooling buat anak-anak kami…

    salam
    elsye

  20. Dharmawan Says:

    Mbak Nelsia, mbak Shasa dan mbak Elsye terima kasih telah singgah di blog saya, senang sekali bisa sharing dengan beberapa orang tua yang mempunyai masalah yang sama dengan saya, intinya memang perhatian orang tua terhadap perkembangan anak sangat penting, sesulit apapun materi yang diajarkan di sekolah, kalau kita bisa kembali menerangkan dan menjelaskan materi2 tersebut secara kongkrit seperti mbak Shasa mungkin akan sangat memudahkan bagi anak untuk mencernanya.

    Sisi positif lain memang dengan materi yang sulit sekarang, waktu kita sebagai orangtua untuk berinteraksi dengan anak menjadi lebih banyak, seperti pengalaman mbak Nelsia tentunya, selelah apapun kita pulang kerja, namun tetap harus selalu meluangkan waktu dengan anak, supaya kita bisa terus memantau pendidikan anak.

    Pengalaman mbak Elsye dengan Risdi memang sama, kurikulum di Jepang memang membuat anak selalu berpikir kreatif, bermain sambil belajar itu memang harus ditekankan oleh guru2 SD kita kalau mau kita tiru. Namun kalau kita sudah berbicara tentang SDM guru2 kita maka kita akan berhadapan dengan masalah yang benar2 sangat kompleks. Namun, tulisan saya hanya sebatas pengalaman saya dan tidak berarti menyamaratakan keadaan suatu SD negeri yang berada di Indonesia. Beberapa SD di kota Bandung bahkan ada yang sudah menerapkan metoda belajar sambil bermain, namun cenderung metoda tersebut diterapkan hanya di SD SD swasta saja.

    Saran saya untuk mbak Elsye, mohon untuk ditelusuri kembali tentang status home schooling di sistem pendidikan kita ke berbagai sumber, saya khawatir meskipun metoda tersebut bisa lebih baik namun tidak diakui oleh pemerintah kita.

    salam,

  21. Dendi Says:

    Pagi mas Dharmawan. Kebetulan saya search di google ketemu blognya mas ini. Sekarang ini saya lagi pusing bener mikirin anak saya yg baru kelas 1 SD. Minggu2 ini dia lagi banyak ulangan, tapi kalau saya baca buku pelajarannya semuanya harus menuntut murid kelas 1 sudah bisa lancar membaca untuk bisa mengerjakan semua test yang diberikan. Sedangnya kan anak saya Rayhan membacanya masih mengeja. itupun baru untuk kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata saja sai bisa membaca, sedangnya untuk kata yang terdiri dari 3 atau lebih, mengejanya sich bisa tapi kalo disuruh menyebutkan kata apa itu dia nggak bisa. Saya jadi ikut pusing dibuatnya. Bagaimana seharusnya saya mengajarnya ya mas? sedangkan sabtu kemarin saya ketemu gurunya. Dia bilang, kalau masih begini terus bisa-bisa nggak naik kelas. Bagaimana seharusnya saya mengajarkan Rayhan ya? sedangkan kalau di paksakan sambil sesekali di kasari saya takut dia jadi stress dan jadi takut buat belajar?. Info dari gurunya anak saya kalau dikelas seringnya bermain dan kalau di suruh belajar harus didampingi terus baru dia mau belajar. Saya lihat materi pelajaran anak kelas 1 SD sudah sedemikian rumit, sama seperti yang diceritakan orangtua lainnya diatas. Awalnya saya masih menganggap bahwa belajar itu tidak harus bisa menghapal saja tapi yang terpenting mengerti maksud dari yang diajarkan itu. Tapi kalau kondisinya begini saya jadi khawatir anak saya bisa nggak naik kelas. bagaimana harusnya saya bertndak? mohon sarannya dari mas Dharmawan dan orangtua lainnya.
    Nb : saya sampai berpikir apa sebaiknya saya keluar dari pekerjaan sehingga bisa mendampingi anak saya belajar. Karena kalau dirumah anak saya tersebut tidak mau belajar kecuali sama saya. Sedang jika saya mengundurkan diri dari kantor, saya masih tergantung dari gaji yang saya terima.

    Salam
    Dendi ayahnya Rayhan

  22. Dharmawan Says:

    Mas Dendi, terima kasih sudah mampir ke blog saya :) , waduh kayaknya masalah yang dihadapi mas Dendi ini persis seperti yang saya alami 2 tahun ke belakang. Memang kurikulum sekarang anak kelas 1 SD harus sudah bisa baca, bahkan di TK B pun anak2 sudah diajarkan cara membaca, sangat jauh berbeda dengan kurikulum di luar negeri, kebetulan teman saya yang sedang studi di luar negeri mengatakan bahwa anak setingkat kelas 2 SD di belum diajarkan tentang bagaimana caranya membaca :) . Bahkan saya masih ingat, ketika saya kelas 1 SD dulu pelajaran bahasa Indonesia pertama adalah belajar bagaimana cara membaca ;) , sekarang terbalik pelajaran membaca harus sudah diajarkan di TK.

    Mas Dendi, saran saya (maaf saya bukan seorang konsultan pendidikan, tapi mudah2an saran saya bisa diterima) mas Dendi tetap bekerja di kantor, hanya saja porsi waktu untuk mendampingi Rayhan harus diperbanyak untuk membantu Rayhan belajar. Mengenai teknis cara membaca atau belajar tanpa membuat anak stress, saya kira sekarang banyak referensi tentang hal itu di toko buku, yaitu tentang bermain sambil belajar atau silahkan kontak mbak Dyah (pengisi komentar blog ini, silahkan lihat ke atas ) atau rekan2 pemberi komentar di blog ini untuk bisa sharing membantu masalah yang dihadapi oleh Mas Dendi.

    Saya hanya ikut berdoa semoga Rayhan bisa tumbuh dan cerdas seperti teman-temannya dan semoga mas Dendi bisa menjadi seorang ayah yang bisa dibanggakan oleh Rayhan.

    salam,

  23. mohamad ashari Says:

    hmm lagi surfing cari sioal matematika buat anak-anak..
    and i found your very interesting article !! well written !

    Komentarnya pun bermutu… keren
    saya sebagai guru matematika smu… 110% sehati dengan akang-teteh, bapak-ibu…

    sekolah seharusnya menjadi tempat menyenangkan penuh pembelajaran bukan tempat stress dan beban nilai

    saya pikir saat ini banyak anak menjadi korban ego ‘orang tua’ dan guru
    bukankan kita senang jika anak kita mendapat predikat ‘pintar’ atau ranking 1 ?
    padahal pintar dan ranking hanya ukuran dalam lingkup yang sangat kecil..

    bagi saya anak haruslah tumbuh secara wajar..
    ya ndak apa-apa kelas 1 nggak bisa deret, toh nanti saat nalarnya sudah berkembang ‘ketinggalan’ kecil ini dapat mudah dikejar.
    ga apa-apa dapet nilai 4 matematika… mungkin bakat anak saya memang di seni atau bidang lain

    homeschooling !
    kemungkinan besar saya mengambil pilihan untuk mendidik anak secara mandiri.. mohon do’anya ya ! :-)

  24. ririn Says:

    Saya juga ikut prihatin dengan kurikulum sekarang. Sebetulnya sy jg bingung apa sih yang diharapkan dari penerapan kurikulum itu? Apalagi belum waktunya sudah masuk SD. Kelas 1 SD aja pulangnya sampe jam 1 siang. Dan yg sy tahu mata pelajarannya berjumlah belasan…Duuhhh……kasian km nak…kapan dong maennya? Bukankah anak usia peralihan dari TK ke SD masih senang2nya bermain…???

  25. YATI Says:

    Dear mas Dharmawan,

    Terima kasih karena sudah membuka topik ini. Saya juga salah satu dari sekian ribu orang tua yang bingung menghadapi kurikulum sekolah saat ini. Anak saya adalah anak yang manis, giat, tekun, bersemangat. sampai di TK perasaan senang disekolah bahkan sampai dirumah. Riang, ceria, bernyanyi, tapi sekarang anak saya berubah jd anak yang agak pendiam, ogah2an untuk belajar, tidak semangat lagi. dulu sewaktu TK tulisannya rapi tapi sekarang nyaris sulit dibaca. Kisah ini berawal ketika anak saya berumur 2 tahun lebih sudah minta sekolah kita selalu memberi janji iya..iya..nanti kalo udah besar. sampailah pada saat umurnya 4 tahun dia sudah gak sabar lagi dijanjiin melulu. akhirnya saya masukkan ke TK swasta islam. setahun di TK kecil ternyata membuat dia bosan karena di TK kecil gak ada pelajaran membaca berhitung, (karena sblm TK anak saya sudah menghapal abjad dan huruf, bahkan beberapa bulan sekolah dia memaksa saya untuk mengajari membaca. saya hanya butuh waktu kurang dari seminggu untuk mengajarinya, dahsyatnya penangkapan anak2 itu). tahun ajaran baru saya berniat melanjutkan ke TK besar, besok mau sekolah anak saya bilang “kakak gak mau sekolah kalo gak sekolah di SD” saya sudah berusaha membujuk tapi gak mempan. karena kekhawatiran yang saya sampaikan belum ddapat dicerna oleh anak saya. alhasil saya gak bisa bilang apa2 dan mendaftarkan ke sekolah islam swasta. karena dengan umur 5 tahun 4 bulan sekolah negri dimana yang mau terima. awal2 tahun dia masih dapat mengikuti tapi lama kelamaan dia mulai drop. latihan yang tadinya 100 menjadi dibawah 80. sekarang saya terkorban perasaan melihat anak saya harus belajar seberat itu dengan usianya yang sangat dini. tidak disuruh belajar tapi sekarang dia wajib belajar, kalo tidak bisa ketinggalan. mau saya leskan kok kayaknya penyiksaan banget ya…anak kita tidak lagi bebas berkreasi, I love you my little daughter. marilah kita sama2 berfikir untuk masa depan anak2 kita. semoga dengan curhat ini kita dapat bertukar fikiran demi anak anak indonesia yang ceria, kreaaatif….

  26. riza Says:

    Dear Mas Dharmawan,

    Saya mau ikut sharing neh…. setelah membaca berbagai komentar di atas saya juga ikut prihatin dengan anak sd sekarang…saya sebagai ibu bekerja yang mempunyai dua orang putri yang besar sudah kelas 1 sd… melihat kondisi pendidikan sekarang memang sebagian besar jauh dari jaman kita di sd dulu….saya selalu berdiskusi dengan suami mengenai kondisi yang ada… anak tk harus sudah bisa baca, ketika masuk sd harus tes dulu, matematika di sd sudah berhitung dengan angka puluhan. Semua ini sangat menyesakkan dada kita sebagai orang tua. Namun di sisi lain kita juga tidak bisa berontak dengan sistem yang ada karena kurikulum demikian yang diprogramkan pemerintah. Alangkah baiknya kita sebagai orang tua berpikiran secara bijak, agar kita senantiasa mendampingi anak kita dalam belajar meskipun cape sepulang kerja…saya selalu berusaha mendampingi belajar setiap hari setelah magrib 1 jam cukup dan selalu konsisten, mengajak bicara pengalaman apa yang dia dapat setiap hari di sekolah, menuliskan di buku penghubung antara guru dan murid mengenai hal-hal yang kurang jelas dengan sistem sekolah…di jaman sekarang ini orang tua juga dituntut kreatif karena kalo tidak nanti anak kita yang keteteran. Dengan pola pembiasaan yang konsisten saya yakin si anak akan terbiasa..meskipun awalnya kita kesusahan. Jangan sampai anak kita yang jadi korban…di sekolah dijejali berbagai materi yang menyebalkan, kita ortu hanya bersikap menyalahkan program, di rumah kita cuekin..nauzdubillahhimindzalik.. Saya yakin setiap ortu punya trik masing-masing dalam menghadapi anak-anaknya dan kita harus ingat anak adalah amanah Allah yang harus kita jaga dan jangan lupa setiap pribadi anak adalah unique dan berbeda tidak bisa kita banding-bandingkan kemampuannya.

  27. Eddy Nurmanto Says:

    btw SDN Merdeka atau Banjarsari kang ? Tahun ini anakku juga masuk SD.

  28. dharmawan Says:

    @Pak Ashari saya sependapat dengan bapak, lebih baik anak kita memang tumbuh dan berkembang sejara wajar saja, namun untuk homeschooling saya agak ragu dengan pengakuan dari pemerintah, saya khawatir “ijazah” nya tidak diakui untuk studi lanjut

    @mbak Ririn dan mbak Yati kalau saya lihat kekurangan di guru2 kita adalah kurangnya improvisasi metoda pembelajaran, seharusnya pada umur2 segitu kita harus mencoba untuk meramu konten pembelajaran untuk disajikan secara menarik, sehingga anak2 kita tidak cepat bosan dan mudah untuk menagkap materi. Di lain pihak kita pun tidak bisa menyalahkan guru 100% karena kalau kita sudah berbicara tentang masalah guru maka kita akan menghadapi problem yang sangat kompleks sekali. Kita berdoa saja semoga anak2 kita tumbuh dan berkembang sewajarnya.

    @mbak Riza, terimakasih atas sharingnya, sekarang saya sedang mencoba saran mbak Riza, setiap pulang kantor langsung memprivat anak2 saya, meskipun cape tapi memang harus dilakukan, karena memang kita tidak bisa berbuat banyak dengan sistem yang telah diterapkan oleh pemerintah. Kita berdoa saja semoga anak2 kita menjadi anak yang berguna minimal bagi orang tuanya :-)

    @Kang Eddy (Dito) .. wah punten Kang sepertinya tidak etis saya bicara di sini..dan memang bukan dua duanya :-)

  29. poppy Says:

    Pak Dharmawan, trim atas liputan nya, kebetulan sy sdg bingung cari sekolah, anak saya juli nanti baru 5Th 8bl, SD negri gak mungkin terima kec nyogok (ogah deh) maka nya cari SD Swasta, eh ternyata skrg pada pake tes sgala, sperti UMPTN aja. Tapi koq rasanya kalo kurikulum nya spt itu mau SD swasta atau negri sama aja. Saya jadi kepikiran home schooling. Memang sih mikir jg soal ijazah, tapi mikir lg ijazah buat apa jg, buat cari kerja? kan habis selesai sekolah mah gak harus jadi pegawai, bisa jd pedagang (pengusaha), designer, web developer, ato apa lah yg penting tetep bisa menghasilkan uang (kan emang ujung2 nya duid he he he) … tapi saya jg blm smp pada keputusan itu, msh hrs diskusi sm suami. Tapi saya berharap & mencari ada sekolah yg biaya nya murah, kurikulum yg sesuai usia anak spt jaman dulu (baru belajar calistung di kelas 1) dan mengajarkan porsi akhlak lebih banyak …. ada ga ya? info dong, kalo gak ada hayuk kita bikin sekolah spt ini … peluang bagus nih :P

  30. Dharmawan Says:

    Mbak Poppy terimakasih atas tanggapannya, wah mbak saya pikir dengan kurikulum kita seperti ini sepertinya negeri dan swasta memang sama aja :). Saya kepikiran memang untuk membuat fasilitas sekolah seperti di luar negeri (tidak bermaksud merendahkan di Indonesia) tapi memang anak2 sekolah di sana penerapan konsepnya sangat bagus, tidak ke konsep “hafalan” seperti anak2 kita sekarang, cara pendekatan mengajarnya patut ditiru, kemudian fasilitas sekolah dari mulai halaman, sarana olahraga, fasilitas kelas memang sangat lengkap sekali. Cita cita saya ingin punya sekolah seperti itu, tapi belum ada modal mbak :D

  31. nadia Says:

    anak saya kelas 2 SD sudah belajar pembagian dan perkalian skala puluhan. Penjumlahan sampai ribuan bahkan perkalian bertingkat tiga sepert 12X2X2 begitu hebat yah …. akhirnya rumah saya jadi penuh “bebek” dan “telur telurnya” serta “bangku bangku” hasil dia belajar di sekolah dan dia tambah stress serta tidak bergairah untuk pergi ke sekolah.

  32. nadia Says:

    Buat kang darmawan, kalau sekolahnya jadi dibikin tolong saya di informasikan secepatnya yah …. udah gak tahan ieu teh hampir gelo urang

  33. Dharmawan Says:

    @Nadia : kayaknya sama ya Anak saya yang dulu kelas 1 sekarang udah kelas 2 SD dan materinya pun sama juga, perkalian (jaman saya diajari kelas 4) dan pembagian. Saya cuma bisa terheran heran kenapa kelas 2 SD sudah diajari perkalian ya ???. Ya mbak Nadia nanti kalau sudah jadi saya kasih tau deh.. mudah2an ada donatur yang mau kasih uangnya :D

  34. dhiana Says:

    saya bersyukur karena anak saya bersekolah di sekolah yang tidak sekedar menghafal, tetapi memberi kesempatan bagi anak - anak untuk menngobservasi dan mengkreatifkan pendapat. Sehingga anak - anak tumbuh menjadi anak yang berani berpendapat dengan jalan yang benar. Untuk pelajaran matematika, materi perkalian, pembagian, sequencing, etc tetap ada; tetapi pengajarannya bukan sekedar hafalan yang caranya harus sama persis urutannya.

  35. wuri Says:

    Kalau bicara tentang pendidikan anak memang kompleks ya, banyak yg harus dibenahi. Bukan hanya kurikulum, yg penting juga adalah cara mengajar. Barisan bilangan atw dikenal juga dengan pattern, tentu ada sequence nya. Tidak yg tiba-tiba berbentuk bilangan 10, 8, 6,… Ada pattern melalui gerak tubuh, musik, dsb, baru masuk ke bilangan. Konsep dan analisa berpikirnya yg harus bisa dihadirkan oleh para pengajar. Begitu juga dengan PR. Dengan PR anak belajar disiplin. Pertanyaannya? PR yg seperti apa? Yg jumlahnya banyak atau yg? Banyak penelitian yg dilakukan untuk ini. Sudahkah guru-guru kita terinfo mengenai perkembangan pendidikan terkini?
    Yg komputer…he he, emang aneh kalau tes nya tertulis seperti di atas. Jadinya tidak konstektual ya. Apalagi untuk anak-anak yg masih perlu konsep dihadirkan dari konkrit dulu. Jadi, kalau punya kesempatan, dibuat pelatihan untuk guru-guru dan ortu juga. Spaya bisa mengajar sesuai dengan prinsip kerja otak, psikologi anak, multiple intell….dsb dsb. Kasian anak-anak, bisa-bisa mereka jadi spesialisasi menghapal…..padahal kebutuhan dunia saat ini (apalagi yad) sudah mengarah ke conceptual age.

  36. Dharmawan Says:

    @dhiana & Wuri : itu dia kekurangan yang dialami oleh SD tempat anak saya sekolah, KONSEP sangat miskin sekali, mereka asli hanya bisa hafalan belaka, itu keliatan sekali ketika anak saya disuruh mengerjakan soal cerita, sama sekali KONSEP nya nggak ada… , jawabannya ngawur dan kemana mana, padahal intinya masih perkalian dan pembagian. Nah mungkin apa yang diutarakan oleh mbak Dhiana dan mbak Wuri sedikit memberi pencerahan tentang bagaimana seorang guru dalam mengajarkan ke anak. Tapi sekali lagi kita harus ingat kalau kita membicarakan profesi seorang guru, maka kita akan masuk ke problem yang sangat kompleks sekali

  37. dhiana Says:

    saya pikir selama masih ada orang - orang yang peduli dengan pendidikan di indonesia, maka pendidikan di indonesia dapat berkembang. Meskipun kita bukan guru atau berkecimpung langsung di dunia pendidikan, tetapi kita dapat memberi masukan pada pihak - pihak yang terkait. Juga melalui forum macam ini, kita dapat saling bertukar pikiran. Siapa tahu, ada guru - guru yang membaca, dan sedikit banyak akan mendapatkan inspirasi dari tulisan tulisan yang kita buat. Yang penting, jangan cepat putus asa, selama kita setia dan terus berjuang, maka pasti ada hasilnya

  38. Rio Says:

    Halo Mas Dharmawan, kebetulan sedang cari2 info ttg sekolah kelas 1 SD dan ketemu tulisan mas yang saya sependapat dengannya. Anak saya juga tahun depan akan masuk SD dan setelah baca2 buku2 1 SD di Gramedia serta baca artikel dan komentar teman2 di blog ini, saya semakin yakin bahwa ada pihak yang memang dengan sengaja tidak menginginkan anak2 Indonesia untuk berpikir lebih kritis, kreatif apalagi proaktif. Lihat saja pada saat anak2 pada tataran umur kelas 1 SD, yang mereka pelajari bukannya matematika, bahasa Inggris atau pelajaran lainnya yang benar, tapi yang didapatkan adalah menjadi tidak senang bahkan takut terhadap matematika, bahasa Inggris atau pelajaran2 itu. Apa yang terjadi kelak setelah mereka dewasa, kemampuan berpikir anak2 ini levelnya menjadi hanya setingkat dengan level penghapal dengan terpaksa. Secara alami tidak akan pernah mempunyai pikiran untuk menciptakan sesuatu apalagi berpikiran kreatif untuk jangka waktu ke depan. Dengan kemampuan yang seperti ini bangsa Indonesia akan terus berada di tingkatan sebagai konsumen dan tidak akan pernah jadi produsen. Entahlah apakah memang ada konspirasi secara sistematis di bidang pendidikan di Indonesia ini atau apa. Yang jelas sudah seharusnya pihak Diknas mulai memperbaiki aturan2 dan praktek pendidikan di Indonesia yg memang benar2 berorientasi mencerdaskan bangsa, bukan sebaliknya. Kalau contoh dari negara maju, mereka lebih kuatir kalau anak2nya tidak membuang sampah pada tempatnya, menyeberang jalan dengan benar, tidak bisa mengutarakan pendapatnya, tidak percaya diri serta kritis terhadap lingkungannya daripada di Indonesia yang lebih kuatir anaknya tidak bisa menghapal deret ukur, tidak bisa mengerjakan soal komputer secara tertulis dan calistung pada saat TK. Karena pendidikan karakter memerlukan waktu lebih dari 10 tahun sedangkan pelajaran2 menghafal itu hanya memerlukan waktu beberapa minggu atau bulan untuk menguasainya. Mungkin alternatif pendidikan di Indonesia yang baik adalah homeschooling, tapi saya lebih senang kalau bisa menyekolahkan anak di sekolah yang benar2 berorientasi mendidik anak yang memiliki karakter lebih kreatif bahkan proaktif.

  39. Bunda Fazya Says:

    Hallo Mas

    Saya kebetulan lagi browsing soal2 pelajaran untuk anak SD dan menemukan blog anda ini. Apa yang anda tulis emang bener 100%, pelajaran anak kelas satu SD sekarang sangat2 ‘menakjubkan’. Anak saya Fazya sekarang kelas 1 SD dan pelajaran2nya, duhhh bikin saya bingung kadang mengajarinya lagi dirumah. Saya susah mencari kalimat yang sederhana yang kira2 mudah dipahaminya. Ini tidak hanya berlaku untuk pelajaran matematika saja tapi hampir di semua mata pelajaran.
    Yang lebih ajaib lagi sekarang ini, anak2 kalau mau masuk SD mesti di test dulu. Dan testnya pun bukan hanya baca tulis saja, psikotestpun ada! Bayangkan, anak2 yang masih lugu2 itu mesti menghadapi bejibun soal2 test yang mesti mereka selesaikan dalam waktu 4 jam! (Fazya kemaren itu test masuk SDnya test mulai dari jam 8 pagi selesai jam 12 siang).
    Saya aja yang diluar nungguin dia test, stress. Apalagi dia yang lagi mengerjakan soal2 itu. Namun alhamdulillah dia bisa mengerjakan test tersebut dengan baik dan dinyatakan lulus sehingga bisa masuk ke sekolah tersebut.
    Satu lagi yang bikin saya bingung, adanya sekolah dasar negri dengan label berstandar Internasional (RSBI) dengan uang sekolah perbulannya lebih mahal dari sekolah SD negri biasa. Apa iya Indonesia telah punya standard International untuk mutu pendidikannya? Trus standard-nya itu apa?
    Saya sekarang berusaha ikutan belajar dan curi2 waktu dikantor untuk browsing bahan2 pelajaran SD untuk saya ajarkan lagi pada Fazya di rumah.
    Moga2 pemerintah mau meninjau lagi kurikulum yang berjalan sekarang ini agar sekolah itu bukan jadi beban untuk anak2 yang semestinya di umur segitu mereka masih bisa main2.

    Salam,
    Bunda Fazya

  40. Dharmawan Says:

    @Rio : betul sekali mas, saya setuju dengan semuanya.., sekarang anak-anak kita tidak diajarkan berpikir kritis, tapi diajarkan penjadi “penghafal” sejati, kalau kita mau mengeluh kemana ya bagusnya ? itu pertanyaan yang saya belum saya bisa jawab, jadi mari kita mulai dari anak kita sendiri saja untuk merubahnya.. saya pikir mas Rio pun akan memulai dengan hal yang sama pula :)
    @Buda Fazya : betul bunda.. , keluhan bunda sama dengan saya dan sekarang itu banyak sekolah berwawasan internasional namun sayang sekali harganya hanya untuk golongan kelas “atas” semuanya. Pemerintah seharusnya tanggap tentang masalah ini.. tapi ya itu tadi tidak mudah untuk merubah semuanya, marilah kita coba perbaiki mulai dari kita sendiri . :)

  41. Haryoto Says:

    Kang Dharmawan, terimakasih artikelnya, saya lgi bingung juga nih taun depan anak saya mau masuk SD, jadi ikut deg-degan. Saya punya saran Kang Dharmawan ikut menulis di Kompasiana.Com, mungkin lebih banyak pembaca dan menyebar di seluruh Indonesia sehingga dapat lebih didengar oleh yang berwenang.

  42. nurul hannah Says:

    saya tak pandai tentang maths ni susah sangat nak uji peka dia ni sangat.

  43. FANI Says:

    masalahnya ga cuma saat di SD tapi juga masa persiapan ke SD (TK,PAUD, Preschool, dll….) ga da konvergen dan intergrasinya sama sekali. GA KOMPAK! gembar gembor ngomongin PAUD gA boleh ngajarin CA-LIS-TUNG tpi d SD dah ribet banget. saya sebagai guru TK dan mahasiswi PAUD dilema, teori ma realita ga da hubungannya. maklum ja sih..kan teorinya nembak dari orang luar, ya standar dan budaya juga dari luar, siap-siap ja TAMBAH BINGUNG DEH..

  44. Dharmawan Says:

    @Mas Haryoto, terimakasih atas sarannya, akan saya pertimbangkan :) .
    @Mbak Nurul : maaf saya kurang paham bahasa melayu :)
    @Mbak Fani : Iya mbak betul sekali, saya sudah melihat dan mengalaminya secara langsung, artinya arah pendidikan di Indonesai itu sangat tidak jelas :) , walhasil semua orang akan TAMBAH BINGUNG seperti yang mbak Fani bilang :) .

  45. Mabel Says:

    halo mas..
    mau ikutan nimbrung soal pelajaran sd..
    baru2 ini saya ke gramedia & melihat2 buku pelajaran anak sd. mas atau orang tua lainnya yg memang penasaran dg pelajaran anak sd bisa lihat sendiri isi buku2 tersebut. isinya segitu mengerikan sampe membuat saya bergidik..
    ada buku latihan psikotest untuk umur 3-6 tahun, ada juga buku2 untuk ujian masuk SD seri I, seri II dan selanjutnya, lalu buku latihan masuk SD khusus materi agama islam yang isinya pertanyaan seputar rukun iman,ada juga pertanyaan sebutkan 10 malaikat.. bayangkan! anak lulusan TK diberi pertanyaan kaya gini…
    saya dengar sebenernya tes masuk sd harus bisa calistung bukan berasal dari diknas tapi dari sekolah2 yg memberlakukannya. saya juga enggak ngerti kenapa diknas enggak negur atau beri penegasan ke sekolah2 tsb. kalo dari kesimpulan saya, beberapa tahun terakhir banyak sekali buku pelajaran yang terbit yang sebenarnya ga sesuai dg kurikulum dari diknas. jadi sekolah2 bukannya mengikuti diknas malah mengikuti kurikulum dari isi si buku2 tsb. jadi sebenernya yg salah siapa? semua pihak dong.. diknas yg enggak tegas, sekolah yang enggak ngikutin diknas & orang2 yg menyusun buku pelajaran seenak udelnya..
    apa mesti homeschooling??
    bukan cuma masalah kurikulum yang memprihatinkan, tapi masalah jam sekolah. dulu waktu kita kelas 1, kita hanya sekolah sampai jam 11. sekarang sampai jam 1 siang. belum lagi ada ekskul2 wajib. apa enggak overload anak2 itu..
    mau memajukan dunia pendidikan indonesia kok malah jadinya “membebani”..

  46. Dharmawan Says:

    Dear mas/mbak Mabel,

    Begitulah kira kira ’situasi’ pendidikan di Indonesia, semuanya serba ‘bias’ dan kalau kita telusuri hal tersebut, maka kita akan menemukan ‘lingkaran setan’ yang tidak akan pernah putus.

    Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, sebetulnyya kalau kita membicarakan masalah ‘pendidikan’ maka kita betul2 menghadapi masalah yang sangat kompleks, di mana semua unsur terlibat di dalamnya, baik itu pemerintah, pemda, sekolah, guru, murid dan orangtua.

    Nah tentunya hal tersebut harus dimulai sekarang juga, untuk menentukan kira kira arah pendidikan kita mau seperti apa, kalau kita sebagai rakyat biasa langsung menghadap ‘pemerintah’ tentang hal ini, kecil kemungkinan akan ‘didengar’. Namun tidak ada salahnya, kalau semua perbaikan yang kita inginkan, kita mulai dari kita sendiri dan anak kita sendiri juga.

    Tentang buku dan materi anak TK dan Sd sekarang, memang kita semua kaget, karena 180 derajat perbedaannya dengan apa yang kita terima dulu. Sekarang anak kelas 1 SD sudah dituntuk untuk harus sudah bisa baca. TK yang dulu hanya tempat untuk bermain dan berkumpul dan belajar bersosialisasi, sekarang berubah menjadi tempat dimana mereka sudah ‘dikenalkan’ dengan materi2 SD yang kita alami jaman dulu.

    mengapa mejadi seperti ini ? dan ini adalah Salah siapa? mungkin salah kita semua :) , so mari kita semuanya untuk memperbaiki pola pembelajaran untuk anak2 SD dimulai dari anak kita sendiri … :)

  47. henny Says:

    betul pak…heran anak SD zaman sekarang, pelajaran anak kelas 1 aja kayak pelajaran anak kelas 4 zaman dahulu….

  48. Dharmawan Says:

    Mbak Henny,

    semua orang yang ada dalam forum ini un merasakan hal yang sama mbak, merasakan keheranan dengan pelajaran anak SD jaman sekarang, semoga anak-anak kita bisa tabah dalam menjalani proses pembelajaran era baru ini ..

  49. Mimi Alya Says:

    Duuuuuu, saya jadi takut ni bagaimana dengan anak saya ya?????
    saya kebayang alangkah pintarnya yang bikin kurikulum ya?????? mereka sekolah melalui SD gak ya?????

  50. Dharmawan Says:

    buat Mimi Alya, sabar aja …, tetap positive thinking, mungkin di balik ’seram’nya kurikulum tersebut ada sisi positif yang bisa kita petik .. :) , Good LUck ya … ;)

  51. Mirzy Says:

    Selamat malam mas admin… boleh ikutan comment tentang pendidikan di SD.
    Kebetulan tahun ini anak saya kelas 1 SD. memang kurikulumnya boleh dibilang aneh. Jaman saya dulu waktu kelas 1 diajari baca :
    INI BUDI
    INI IBU BUDI
    INI BAPAK BUDI
    mungkin karena si BUDI sudah jadi bapak dan bapaknya sudah jadi kakek makanya materi itu sudah tidak muncul lagi…
    Yang jadi aneh lagi adalah gurunya… Yang saya tahu harusnya ada jadwal pelajaran diberikan kepada setiap siswa, tapi kayaknya gak ada soalnya tiap hari materinya matematika, IPA, Bahasa Indonesia. Kadang 2 minggu sekali ada materi Bahasa Jawa, Agama.
    Yang bikin tambah pusing biasanya materi belum diberikan ttapi sudah ada PR… wah jadi bingung jawabnya.

  52. Julu Says:

    Yah, beginilah negeri antah berantah yang kebingungan, karena Pemimpinnya juga keblinger nggak tau apa yang dikerjakan jadi biar dikate hebat buat kurikulum yang menghancurkan anak, yang paling mabok ada guru pernah kasi PR sama anak saya, soalnya begini: Luas persegi panjang sama dengan luas persegi, berapakah panjang sisi persegi? Hayo mabok nggak anak dibuat. Terus saya pikir ini gurunya lagi mabok apalagi goblok?

  53. Dharmawan Says:

    @Mirzy : Wah maaf mas baru saya kasih komentar lagi :D, kebetulan pengalaman mas Mirzy persis seperti yang saya alami, sekarang di SD buku INI BUDI sudah tidak ada lagi tuh, kelas 1 sudah harus bisa belajar baca dan tulis jadi sabar aja Mas, kudu ngajarin anak2 sebelum masuk SD. Kalau masalah guru saya no comment mas .. , saya juga banyak keluhan untuk guru2 SD di sekolah anak saya ;) .

    @Julu : mas/mbak Julu waduh kalo ada soal kaya gitu emang bener bikin mabok :D, sedang ‘khilaf’ mungkin ;)

  54. aditya Says:

    @all : memang pada lucu2 sekarang sekolah kelas 1 SD, udah begitu buku2 pelajarannya kalo tahun ini pake penerbit Yudistira tahun depannya pake penerbit Erlangga atau yg laennya jadi ngga bisa dipake utk adik2nya yg akan masuk tahun berikutnya. udah gitu anak saya yg baru masuk tahun ini, waktu belajarnya dari jam 07.00 - 12.30 (senin - kamis) dan jumatnya dari jam 07.00 - 14.00, Gila ngga itu anak kecil suruh belajar selama itu apa bisa ya ?
    mungkin ada yg tahu UU atau perpu yg mengatur maksimal waktu belajar utk anak kelas 1 SD tolong dong saya diberitahu. terima kasih.
    email : fideladitya@gmail.com

  55. P2ajie Says:

    kebetulan anak saya jg kelas 1 SD d salah satu Sekolah Swasta d Semarang, saya juga heran banget ama kurikulum skrg, yg lbh mengherankan lagi mgg kmrn anak saya ada PR Bhs Inggris yg sudah d suruh membuat percakapan….. ya memang percakapan hanya berkisar pada sapaan spt : how are you trus yg lain menjawab I am fine thank you…..
    hal ini jg sudah saya tanyakan kpd wali kelas-nya tp jawabannya hanya: Ya gimana lagi pak kurikulumnya mmng sudah spt itu………
    Jadi bingung saya???? Padahal rata” anak kelas 1 SD membaca dan menulis dlm Bahasa Indo aja msh belum lancar la koq dah disuruh nulis dlm Bahasa Inggris????

  56. ayah Rayya Says:

    yang saya heran, “pembuat kurikulum” darimana mereka dapat panduan hingga keluar kurikulum “segila ini”? “pembuat kurikulum” toh juga terdiri dari orang-orang yang memiliki anak usia sekolah. tanyakan pada mereka, dimana miss-nya dari masa bermain (TK/PAUD) langsung lomba lari sprint (kelas 1 SD). apakah tidak ada proses studi banding kurikulum dengan negara lain? apa yang dicari? atau telah terjadi “konspirasi kurikulum” untuk pembodohan anak Indonesia?

  57. paulina Says:

    anak sy br 3,5 thn, tp sy prihatin dan ngeri dgn kurikulum pendidikan dasar yg ga jelas sasaran dan acuannya. Tetangga mengeluh krn pelajaran anaknya yg kelas 1 susah. Masa ulangan pelajaran olahraga berupa teori mcm2 gerakan, misal saat melakukan gerakan anu siku kanan harus bertumpu pada…?

    Sekian tahun yg lalu pernah dengar mendiknas bilang ‘mengajar calistung adalah tugas guru SD kelas1, TK adalah sarana sosialisasi anak dan bermain” . Pada kenyataannya banyak SD mensyaratkan anak sudah harus bisa baca tulis. Buku pelajaran SD sudah sarat tulisan dan teori hapalan. Jd guru TK pada “nggenjot” anak2 dgn calistung dan PR setiap hari. Berdasar perkembangan psikologi pendidikan tekanan sperti itu akan kontra produktif. Anak bisa stress dan malas sekolah, padahal masa pendidikan yang harus ditempuh masih belasan tahun ke depan.

    Kabarnya kurikulum pendidikan dasar sekarang diadopsi dari Eropa, tp negara2 maju disana sjk 20 tahun yg lalu sudah menyadari cacatnya metode tsb. Skrg mereka lebih mengacu pada pengembangan kreativitas dan penalaran anak pada pendidikan awal. Sehingga anak usia TK-2SD masih diberi banyak kesempatan belajar sambil bermain untuk menunjang potensi kecerdasan majemuk, dan yg paling penting, memiliki mental belajar yg sehat.

    Tp kita bisa apa ya?

  58. Dharmawan Says:

    @aditya, @P2ajie, @ayah Rayya dan @paulina : terimakasih atas komentar-komentarnya, ternyata apa yang saya alami dengan apa yang Bapak/Ibu rasakan sama persis. Anak SD kelas 1 sekarang tidak belajar membaca lagi, mereka sudah diisyaratkan untuk sudah bisa membaca dan menulis, hal yang sangat berbeda seperti jaman kita dulu waktu SD. Masuk SD anak2 malah menjadi “stress” bukannya menjadi “fun”. Sekolah adalah tempat untuk mengajarkan untuk bersosialisasi sambil menimba ilmu. Tentunya pendekatan dari seorang guru haruslah dengan pendekatan selayaknya seorang Bapak/Ibu kepada anaknya, namun sekarang fenomenanya lain, anak2 akan mendapatkan “pressure” yang tinggi ketika masuk kelas 1 SD. Tidak heran banyak anak yang merasakan tidak “enjoy”. Terlebih lagi dengan banyaknya materi yang harus “masuk” dan semuanya itu harus “dihapal” . Pemahaman konsep sudah ditinggalkan oleh gaya pembelajaran sekarang. Meskipun masih kita temukan di beberapa sekolah swasta.

    Kurikulum pendidikan kita dari dulu sebetulnya sudah “baik”, hanya “implementasi” di lapangan yang masih lemah, evaluasi dan kontrol sistem yang berkelanjutan masih merupakan “barang mahal” untuk sistem pendidikan kita. Kesalahan tidak bisa 100% kita limpahkan kepada guru-guru, banyak faktor-faktor lain yang merupakan komponen sistem pendidikan kita yang juga mempunyai kontribusi dalam carut marutnya sistem pendidikan kita.

    Nah dengan keadaan yang “kompleks” seperti ini, yang bisa kita lakukan untuk sementara adalah untuk tetap memantau perkembangan anak kita, pemantauan di rumah adalah salah satu jalan yang efektif agar anak-anak kita tidak terjebak ke dalam sistem pendidikan kita yang “salah arah” ini.

    Semoga semua pihak yang berwenang akan merenungkan hal ini untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih maju…

  59. narni Says:

    begitulah pendidikan kita yg lebih mendasarkan pada ‘hafalan’ dibanding pembelajaran berbasis ‘aktivitas’. materi yg diberikan kpd anak terlalu banyak dan terkesan dipaksakan.bahkan kelas 1 SD bukan lagi mengajarkan anak utk bisa membaca, tp sudah memahami bacaan (:pdhl membaca saja belum tentu semua bisa).
    yg selama ini sy amati kesulitan anak di tingkat yg lebih tinggi (:smp) utk pelajaran matematika justru pada operasi hitung.’seakan2′ anak yg di smp ini dulu ketika di SD tidak pernah belajar operasi hitung. anehnya untuk rumus2 mereka hafal (kelihatan sekali kn pembelajaran berbasis hafalannya).
    mnrt sy pribadi, mungkin karena tim penyusun kurikulum ini sangat2 pandai, sehingga kurikulum disusun dg menempatkan anak2 didik seolah2 spt mereka ketika masih kecil.

  60. Dharmawan Says:

    @Narni : betul sekali…., sekarang tren pembelajaran anak-anak kita lebih diarahkan kepada “menghafal”, padahal dalam umur-umur SD, fondasi tentang “konsep” harus mulai dikenalkan, supaya nantinya anak-anak kita dapat mudah untuk beradaptasi apabila menemukan suatu “masalah”. Saya sendiri kurang paham bagaimana implementasi kurikulum kita ini, sepertinya dari pemerintah tidak pernah ada evluasi ke lapangan. Yang ada hanya evaluasi “Nilai Akhir”. Semoga saya salah…

  61. Warwin Says:

    Memang benar kurikulum SD sekarang membuat orang tua i stress. Sayang guru2nya terkadangpun tidak punya konsep maksudnya adalah pendidikan itu bukan hanya sekedar menghafal dan dan transfer ilmu, seharusnya harus dilihat meningkatkan kemampuan ‘menta’ anak2 usia dini, mulai dari sosialisasi, kemandirian dsb…

    anak saya masuk sd swasta karena umurnya memang kurang hasil ujiannya sejauh ini lumayan….tapi ada sesuatu yang membuat saya kenes, ada pertanyaan…..

    Radio adalah alat…..kalau teori hafalan pelajaran TIK sebagai alat informasi atau apalah….anak saya jawab radio adalah alat dengar musik…(eh disalahin) harusnya guru jangan menyalahkan begitu saja…..itulah kreatifitas dari kehidupan anak sehari2

    Pertanyaan kedua
    Rumah………tampak kotor….soal apa itu saya lupa…..jawaban teorinya adalah rumah tidak sehat tampak kotor…..nah jawaban anak saya rumah tidak bersih tampak kotor….eh disalahin gurunya…..saya jadi agak gregetan…..ya itulah indonesia ya ga kurikulumnya ga gurunya….saklek hanya pada teori yang ga jelas…

  62. Win Wan Nur Says:

    Aneh memang kurikulum di negeri ini, apa mereka ini nggak diajari psikologi yang paling dasar mengenai perkembangan kognitif anak.

    Jadi ada tahap-tahapan yang harus dilalui anak untuk mencapai sebuah tingkatan kognitif tertentu.

    Saya juga mengalami masalah yang sama dengan yang dihadapi mas Darmawan. Sebelumnya saya berdomisili di Bali, di sana saya menemuka sekolah yang bisa saya katakan sempurna untuk anak, namanya sekolah Montessori, di sekolah itu untuk anak kelas satu sama sekali tidak diajarkan hafalan, tidak ada PR yang ada hanya membuat anak memahami konsep.

    Tapi sayangnya karena urusan bisnis keluarga, saya harus kembali ke Jakarta dan kesulitan pun bermula, saya keliling mencari sekolah yang pas tapi tidak menemukannya, bahkan sekolah Montessori yang ada di sini pun sama saja. Lebih untuk memamerkan anak saja.

  63. Deasyra Syam Says:

    Jaman dah memang makin keblinger. Gak hanya meteri bahan ajar saja yang makin tinggi, tapi juga banyak orang tua yang demi gengsi menyekolahkan anak-anak mereka setahun atau dua tahun lebih cepat dari minimum usia yang disyaratkan masuk SD. Jadi banyak anak yang belum siap secara psikologi dalam beradaptasi dengan tantangan-tantangan belajar di SD.
    kalau menurut saya….susah dech menyalahkan ataupun protes ke pemerintah, mereka banyak jurus mengelak demi membenarkan kebijakan mereka, pengennya supaya rakyat indonesia cepat maju. Jadi ya….kita sebagai orang tua yang kudu mau belajar banyak lagi, orang tua dituntut banyak berkorban…ya cari duit buat sekolah anak,…ya juga jadi guru private pribadi buat anak-anak. Kalo kata aa Gym….kalo nasi dah jadi bubur…ya….kita harus berusaha agar bubur itu jadi enak. Jadilah orang tua yang cerdas dan bermanfaat bagi anak-anak.

  64. P Says:

    Itulah letak beda antara Pembelajaran dan Pendidikan…..
    Ini ada sedikit tulisannya mas Adzis, pak.
    http://rumahkerja.org/kata-kita/pengkhianatan-akademis/

  65. Tono Says:

    Hmm…

    Bagaimana bila dimulai program rintisan bikin TK yg bener, setelah itu 2 tahun kemudian dikembangkan rintisan SD yg bener, setelah itu baru deh anak-anak bisa dilepas ke sekolah pemerintah ^_^

    Saya kira dengan asumsi anak kita adalah priceless, maka menyiapkan kehidupan mereka (pendidikan) dengan lebih baik adalah harga yg murah…

    Ayo…kita bergerilya dengan sistem pendidikan… ^_^

  66. windy Says:

    ternyata banyak sekali yang “benci” dengan kurikulum sekarang, memang aneh pembuat kurikulum itu tidak memikirkan hak dasar anak pada anak usia dini yaitu bermain. Apakah ini suatu kezholiman jika kita biarkan anak2 kita dipaksa untuk menerima beban yg berat? Kemana kita bisa mengadu? apakah didengar pengaduan kita?
    Memang anak zaman sekarang mempunyai pola pikir yg lebih “canggih” dari kita zaman dahulu, mereka juga lebih mudah menyerap tekhnologi. Tapi apakah itu yang dijadikan alasan para pembuat kurikulum untuk mencekoki mereka dengan beban yang berat.
    Pengalaman saya untuk deret ukur tersebut juga miris, Itu salah satu soal test matematika di sd swasta favorit dan yg membuat saya melongo adalah untuk masuk playgroupnya pun anak harus dites !!! Anak playgroup gituuu loh mo di tes apaan yah? wong dimasukin playgrup untuk sosialisasi … dan bener terjadi banyak yg tidak lulus masuk playgroup tsb.. busyeetttt
    Saya rasa sangat tidak cukup kita hanya berharap pemerintah bakal merenung atau tahu permasalahan ini, pastinya hal ini sama sekali tidak terpikir oleh pemerintah. Dan celakanya hanya pemerintah yang bisa mengubah kebijakan kurikulum ini. Sebenarnya sangatlah mudah untuk mencontoh hal positif dari bangsa lain, tidak perlu malu untuk meniru kurikulum bangsa yg lebih maju. Toh tujuannya untuk kemajuan bangsa kita juga. Saya yakin jika kurikulum Indonesia lebih “childfriendly” pasti anak anak Indonesia akan menjadi anak yang lebih hebat …Insya Allah

  67. bambang nugroho Says:

    hallo pak dharmawan trimakasih ada situs ini dengan situs ini saya jadi sadar cara saya salah selama ini saya kebetulan kerja diluar negri, rasanya gregetan dngan kurikulum anak sd sekarang, anak saya sekarang kelas lima sd di sekolah negri cukup terkenal di yogya dan sekarang saya dalam masa liburan kerja udah lebih kurang lima bulan dirumah jadinya sya bisa memantau anak saya sekolah seperti antar jemput juga kemarin sempat mid semester, bayangkan anak saya udah bisa dibilang hampir setiap hari les sama gurunya maupun privat mengenai pelajaran ingris, matematika dll eh rasanya kaya ngga ada hasilnya apa anak saya yg ngga mampu saya sampai ngga ngerti sendiri padahal saya juga ikut bantu privatin dia dengan bahas inggris dan matematika begitu hasil ujian keluar ternyata hasilnya jeblok apa saya ngga stress berat, menurut saya sudah cukup yg saya berikan padanya seperti les(sama gurunya dan les luar), diajarin sendiri, yang saya heran kok banyak yg ngga masuknya hafalan itu , setelah saya baca situs ini baru saya sadari bahwa kemampuan anak itu untuk disuruh menghafalllllllll…. teelalau banyak itu yg bikin dia ketinggalan alias overload di kepalanya dengan ini saya janji akan sedikit bersabar dengan anak saya, karena kalau nilainya jelek saya jewer malah kadang lebih keras mudah2an tidak akan terjadi lagi dengan bantuan yg sangat berarti dari tulisan mas dharmawan dan teman teman yg lain saya jadi menyadari anak adalah titipan dari yang maha kuasa yg tidak boleh disia siakan

  68. bambang nugroho Says:

    maksud saya menulis ini untuk diri saya sendiri dan mudah2an tidak akan terjadi lagi pada bapak2, ibu2 dan teman2 yang lain jangan memaksakan sesuatu pada anak yg seharusnya belum masanya, kita hanya bisa membimbing bukan memaksakan kehendak biar anak kita dibilang pintar atau jadi kebanggaan pada teman teman padahal anaknya sendiri merasa tertekan sekali sehinggga kecil2 sudah merasa stresss apalagi orang tuanya?. di Yogya orang tua yg sekolah anaknya hanya sebagai pion catur kemana disuruh sama orang tua kesitulah anaknya harus ikut tanpa bisa menolak, LKS diisiin, anak hanya disuruh baca dan menghafal tanpa tau maksudnya tapi ini semua karena kurikulum yg dipaksain pada anak2 jadinya mereka sudah anti dulu dengan pelajaran dan saya mohon maaf kalau ada kata2 yg ngelantur semua ini mengalir begitu saja saking steresssnya apalagi ada kabar kelas lima kalau nilai dibawah KKM dikeluarkan dari sekolah dan itu sudah terjadi disuatu sekolah di yogya apa itu mendidik???? mereka khan masih SD yg nota bene harus dibina mentalnya bukan dihakimi begitu kasihan sekali nasib calon2 pengganti kita ini …………………..???? entah jadi apa mereka nantinya ?. apa Indonesia harus jadi negara terkebelakang terus demi bisnissssss . Ampunnn.

Leave a Reply